Jumat, 31 Agustus 2012

Imajinasi Terbimbing


a.    Pengertian
Imajinasi terbimbing adalah menggunakan imajinasi seseorang dalam suatu cara yang dirancang secara khusus untuk mencapai efek positif tertentu (Smeltzer dan Bare, 2002).


b.    Tujuan Teknik Imajinasi Terbimbing
                  Menurut Potter dan Perry dan Perry (2006), dalam imajinasi terbimbing  klien menciptakan kesan dalam pikiran,  berkonsentrasi dalam kesan tersebut sehingga secara bertahap klien kurang merasakan nyeri.  Stimulus yang menyenangkan menyebabkan pelepasan endorfin (substansi seperti morfin yang diproduksi oleh tubuh yang menghambat transmisi impuls nyeri). Pelepasan endorfin ini menghambat transmisi neurotransmiter tertentu (substansi P) sehingga terjadi penurunan intensitas nyeri.

c.    Dampak Imajinasi Terbimbing
Latihan teknik imajinasi terbimbing merupakan intervensi perilaku untuk mengatasi kecemasan, stres dan nyeri. Menurut Smeltzer dan Bare (2002) imajinasi terbimbing dapat mengurangi tekanan dan berpengaruh terhadap proses fisiologi seperti menurunkan tekanan darah, nadi dan respirasi. Hal itu karena teknik imajinasi terbimbing dapat mengaktivasi sistem saraf parasimpatis.

d.    Pelaksanaan Teknik Imajinasi Terbimbing
Perawat melatih klien dalam membangun kesan dan berkonsentrasi pada pengalaman sensori. Mula-mula perawat meminta klien untuk memikirkan pemandangan yang menyenangkan atau pengalaman yang meningkatkan penggunaan semua indra. Klien kemudian menjelaskan pemandangan tersebut dan perawat mencatatnya sehingga catatan tersebut dapat digunakan untuk latihan selanjutnya. Berikut contoh dari bagian latihan teknik imajinasi:
1)  Bayangkan diri anda berbaring di atas tempat tidur sejuk yang terbuat dari rumput disertai suara air yang mengalir dari sungai yang dekat. Hari ini, cuacanya sejuk. Anda menoleh untuk melihat kelompok bunga-bunga liar berwarna biru sedang bermekaran dan anda dapat mencium wanginya.
2)  Perawat duduk cukup dekat dengan klien supaya dapat didengar klien, tetapi tidak mengganggu klien. Ketenangan dan suara yang lembut membantu klien semakin berfokus seutuhnya pada gambaran yang dianjurkan perawat. Saat relaksasi, klien berfokus pada gambaran tersebut dan gambaran tersebut tidak diperlukan apabila perawat masih berbicara. Apabila klien menunjukkan tanda-tanda agitasi, gelisah, perawat harus menghentikan latihan dan mulai lagi jika klien lebih tenang (Potter dan Perry, 2006).
Persiapan dan pelaksanaan teknik imajinasi terbimbing (Kozier dan Erb, 2009):
1)  Persiapan
Sediakan lingkungan yang nyaman dan tenang.
2)  Pelaksanaan
a)  Jelaskan rasional dan keuntungan dari teknik imajinasi terbimbing.
Klien merupakan partisipan aktif dalam latihan imajinasi dan harus memahami secara lengkap tentang apa yang harus dilakukan dan hasil akhir yang diharapkan.
b)  Cuci tangan dan observasi prosedur pengendalian infeksi lainnya yang sesuai.
c)  Berikan privasi klien.
d)  Bantu klien ke posisi yang nyaman.
(1)  Bantu klien pada posisi bersandar dan minta klien menutup matanya. Posisi nyaman dapat meningkatkan fokus klien selama latihan imajinasi.
(2)  Gunakan sentuhan hanya jika hal ini tidak membuat klien merasa terancam. Bagi beberapa klien, sentuhan fisik mungkin mengganggu karena kepercayaan budaya dan agama mereka.

e)  Implementasikan tindakan untuk menimbulkan relaksasi.
(1)  Gunakan nama yang disukai klien.
(2)  Bicara jelas dengan nada suara yang tenang dan netral.
(3)  Minta klien menarik nafas dalam dan perlahan untuk merelaksasikan semua otot.
(4)  Untuk penatalaksanaan nyeri atau stres, dorong klien untuk “pergi ke tempat yang sebelumnya ia rasa sangat tenteram”.
f)   Bantu klien merinci gambaran dari bayangannya.
Minta klien untuk menggunakan semua indranya dalam menjelaskan bayangan dan lingkungan bayangan tersebut.
g)  Minta klien untuk menjelaskan perasaan fisik dan emosional yang ditimbulkan oleh bayangannya.
Arahkan klien untuk mengeksplorasi respons terhadap bayangan karena ini akan memungkinkan klien memodifikasi imajinasinya. Respons negatif dapat diarahkan kembali oleh perawat untuk memberikan hasil akhir yang lebih positif.
h) Berikan umpan balik kontinu kepada klien.
Beri komentar pada tanda-tanda relaksasi dan ketenteraman.
i)   Bawa klien keluar dari bayangannya.
Hitung mundur secara perlahan dari 5 hingga 1. Katakan kepada klien bahwa ia akan merasa telah beristirahat ketika mata dibuka.
j) Setelah pengalaman imajinasi, diskusikan perasaan klien mengenai   pengalamannya tersebut.
Identifikasi setiap hal yang dapat meningkatkan pengalaman imajinasi.
k)  Dorong klien untuk mempraktikkan teknik imajinasi.
l)   Dokumentasikan respons klien.

e.    Waktu yang Dibutuhkan untuk Latihan Teknik Imajinasi Terbimbing

Dibutuhkan waktu yang banyak untuk menjelaskan teknik imajinasi terbimbing dan waktu untuk mempraktikkannya. Pasien diminta mempraktikkan imajinasi terbimbing  selama sekitar 5 menit, diulangi sebanyak 3 kali. Banyak pasien mengalami efek rileks dari imajinasi terbimbing saat pertma kali mereka mencobanya. Nyeri mereda dapat berlanjut selama berjam-jam setelah imajinasi terbimbing dilakukan (Smeltzer dan Bare, 2001).

DAFTAR PUSTAKA
Kozier B., Erb G. 2009. Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis, Edisi 5. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Potter P. A., Perry A. G. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, Praktik. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Smeltzer S. C., Bare G. B. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Volume 1. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.


Kamis, 30 Agustus 2012

Fraktur


A.   Konsep Fraktur
1.    Pengertian Fraktur
a.  Fraktur adalah putusnya kontinuitas tulang, tulang rawan epifisis atau tulang rawan sendi (Reksoprodjo, 2000).
b.  Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang disebabkan oleh ruda paksa (Mansjoer, 2000).
c.   Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan otot dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang, dan jaringan lunak di sekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap (Price dan Wilson, 2006).
d.  Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Lima klasifikasi utama fraktur: incomplete, complete, tertutup, terbuka, fraktur patologis (Doenges, 2000).

2.    Jenis-jenis Fraktur
a.    Berdasarkan komplit/tidak komplit
1)    Fraktur komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang.
2)    Fraktur tidak komplet, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang, seperti:
a)     Hair line fracture (patah retak rambut).
b)     Buckle fracture atau torus fracture, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya, biasanya pada distal radius anak-anak.
c)     Greenstick fracture, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang anak.
b.  Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma
1)    Garis patah melintang: trauma angulasi atau langsung.
2)    Garis patah oblik: trauma angulasi.
3)    Garis patah spiral: trauma rotasi.
4)    Fraktur kompresi: trauma aksial-fleksi pada tulang spongiosa.
5)    Fraktur avulsi: trauma tarikan/traksi otot pada insersinya di tulang, misalnya fraktur patela.
c.    Berdasarkan jumlah garis patah
1)    Fraktur kominutif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen.
2)    Fraktur segmental: garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan. Bila dua garis patah disebut pula fraktur bifokal.
3)    Fraktur multiple: garis patah lebih dari satu, tetapi pada tulang yang berlainan tempatnya.
d.    Bergeser/tidak bergeser
1)    Fraktur tidak bergeser (undisplaced), garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser, periosteumnya masih utuh.
2)    Fraktur bergeser (displaced), terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi menjadi:
a)     Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan overlapping).
b)     Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).
c)     Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauhi).
e.    Terbuka/tertutup
1.    Fraktur tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar.
2.    Fraktur terbuka (open/compound), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya kerusakan di kulit. Menurut Gustillo, fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat, yaitu:
1)     Derajat I
a)    Luka < 1 cm.
b)    Kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda luka remuk.
c)    Fraktur sederhana, transversal, oblik, kominutif ringan.
d)    Kontaminasi minimal.
2)     Derajat II
a)    Laserasi > 1 cm.
b)    Kerusakan jaringan lunak tidak luas, flap/avulsi.
c)    Fraktur kominutif sedang.
d)    Kontaminasi sedang.
3)     Derajat III
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan neurovaskular serta kontaminasi derajat tinggi (Mansjoer, 2000).


3.    Penyebab Fraktur
     Menurut Betz dan Sowden (2009) penyebab fraktur dapat bermacam-macam :
a.    Trauma langsung
Benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu.
b.    Trauma tidak langsung
Titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan.
c.    Kondisi patologis
Fraktur dari tulang yang patologik akibat suatu proses, misalnya osteoporosis.

4.    Tanda dan Gejala
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan ekstremitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan warna.
a.  Nyeri
Kebanyakan pasien dengan penyakit atau kondisi traumatik otot, tulang, dan sendi biasanya mengalami nyeri. Terputusnya kontinuitas jaringan menyebabkan pelepasan mediator kimia seperti histamin, bradikinin, dan kalium yang bergabung dengan nosiseptor (reseptor yang berespons terhadap stimulus yang membahayakan). 
Dua tipe serabut saraf perifer mengonduksi stimulus nyeri: serabut A-delta yang bermielinasi dan cepat dan serabut C yang tidak bermielinasi dan berukuran sangat kecil serta lambat. Ketika serabut C dan serabut A-delta mentransmisikan impuls dari saraf perifer, maka akan melepaskan prostaglandin. Transmisi stimulus nyeri berlanjut di sepanjang saraf eferen dan berakhir di bagian kornu dorsalis medulla spinalis. Di dalam kornu dorsalis, neurotransmitter, seperti substansi P dilepaskan, sehingga menyebabkan suatu transmisi sinapsis dari saraf perifer (sensori) ke saraf traktus spinotalamus (Paice, 1991 dalam Potter dan Perry, 2006). Hal ini memungkinkan impuls nyeri ditransmisikan lebih jauh ke dalam sistem saraf pusat. Stimulus nyeri berjalan melalui serabut saraf di traktus spinotalamus yang menyeberangi sisi yang berlawanan dengan medulla spinalis. Impuls nyeri kemudian berjalan ke arah medulla spinalis. Setelah impuls nyeri naik ke medulla spinalis, maka informasi ditransmisikan dengan cepat ke pusat yang lebih tinggi di otak, termasuk pembentukan retikular, sistem limbik, talamus, dan korteks sensori dan korteks asosiasi.
b.  Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan/hilangnya fungsi anggota badan dan persendian-persendian yang terdekat dan cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa/gerakan-gerakan yang abnormal) bukannya tetap rigid seperti normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba) ekstremitas yang bisa diketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melengketnya otot.
c.   Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan bawah tempat fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5 sampai 5 cm (1 sampai 2 inci).
d.  Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan krepitus  yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya (uji krepitus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lunak yang lebih berat).
e.  Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera.
Tidak semua tanda dan gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur (Smetlzer, 2001).

5.    Komplikasi
a.    Non-union, delayed union, atau mal-union tulang dapat terjadi, yang menimbulkan deformitas atau hilangnya fungsi.
b.    Sindrom kompartemen dapat terjadi. Sindrom kompartemen ditandai oleh kerusakan atau destruksi saraf dan pembuluh darah yang disebabkan oleh pembebengkakan dan edema di daerah fraktur.
c.    Embolus lemak dapat timbul setelah patah tulang, terutama tulang panjang (Corwin, 2000).

6.    Prosedur Diagnostik
Diagnosis fraktur bergantung pada gejala, tanda fisik dan pemeriksaan sinar-X pasien. Biasanya pasien mengeluhkan mengalami cedera pada daerah tersebut. Bila berdasarkan pengamatan klinis diduga ada fraktur, maka perlakukanlah sebagai fraktur sampai terbukti lain (Smeltzer dan Bare, 2001).

7.    Penatalaksanaan Kedaruratan
Segera setelah cedera, pasien berada dalam keadaan bingung, tidak menyadari adanya fraktur dan berusaha berjalan dengan tungkai yang patah, maka bila dicurigai adanya fraktur, penting untuk mengimobilisasi bagain tubuh segera sebelum pasien dipindahkan. Bila pasien yang mengalami cedera harus dipindahkan dari kendaraan sebelum dapat dilakukan pembidaian, ekstremitas harus disangga diatas dan dibawah tempat patah untuk mencegah gerakan rotasi maupun angulasi. Gerakan fragmen patahan tulang dapat menyebabkan nyeri, kerusakan jaringan lunak dan perdarahan lebih lanjut.
Nyeri sehubungan dengan fraktur sangat berat dan dapat dikurangi dengan menghindari gerakan fragmen tulang dan sendi sekitar fraktur. Pembidaian yang memadai sangat penting untuk mencegah kerusakan jaringan lunak oleh fragmen tulang.
Daerah yang cedera diimobilisasi dengan memasang bidai sementara dengan bantalan yang memadai, yang kemudian dibebat dengan kencang. Imobilisasi tulang panjang ekstremitas bawah dapat juga dilakukan dengan membebat kedua tungkai bersama, dengan ekstremitas yang sehat bertindak sebagai bidai bagi ekstremitas yang cedera. Pada cedera ekstremitas atas, lengan dapat dibebatkan ke dada, atau lengan bawah yang cedera digantung pada sling. Peredaran di distal cedera harus dikaji untuk menentukan kecukupan perfusi jaringan perifer.
Pada fraktur terbuka, luka ditutup dengan pembalut bersih (steril) untuk mencegah kontaminasi jaringan yang lebih dalam. Jangan sekali-kali melakukan reduksi fraktur, bahkan bila ada fragmen tulang yang keluar melalui luka. Pasanglah bidai sesuai yang diterangkan diatas.
Pada bagian gawat darurat, pasien dievaluasi dengan lengkap. Pakaian dilepaskan dengan lembut, pertama pada bagian tubuh sehat dan kemudian dari sisi cedera. Pakaian pasien mungkin harus dipotong pada sisi cedera. Ekstremitas sebisa mungkin jangan sampai digerakkan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut (Smeltzer dan Bare, 2001).

8.    Prinsip Penanganan Fraktur
Prinsip-prinsip tindakan/penanganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi, dan pengembalian fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi.
a.    Reduksi
Reduksi fraktur (setting tulang) berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi anatomis.
1)    Reduksi tertutup, pada kebanyakan kasus reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan manipulasi dan traksi manual. Sebelum reduksi dan imobilisasi, pasien harus dimintakan persetujuan tindakan, analgesik sesuai ketentuan dan bila diperlukan diberi anestesia. Ekstremitas dipertahankan dalam posisi yang diinginkan sementara gips, bidai atau alat lain dipasang oleh dokter. Alat imobilisasi akan menjaga reduksi dan menstabilkan ekstremitas untuk penyembuhan tulang. Sinar-X harus dilakukan untuk mengetahui apakah fragmen tulang telah dalam kesejajaran yang benar.
2)    Traksi, dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi.
3)    Reduksi terbuka, pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka. Dengan pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi.
b.     Imobilisasi fraktur
           Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi, atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. Sasarannya adalah mempertahankan reduksi di tempatnya sampai terjadi penyembuhan.
c.     Mempertahankan dan mengembalikan fungsi
           Untuk mempertahankan dan mengembalikan fungsi, reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan. Status neurovaskuler (misalnya, pengkajian peredaran darah, nyeri, perabaan, gerakan) dipantau. Kegelisahan, ansietas dan ketidaknyamanan dikontrol dengan berbagai pendekatan (misalnya, perubahan posisi, strategi peredaan nyeri).
d.     Faktor yang mempengaruhi penyembuhan fraktur
Banyak faktor yang mempengaruhi penyembuhan tulang.
1)    Umur
Pada anak-anak proses penyembuhan tulang akan lebih cepat dibandingkan dengan orang dewasa.
2)    Infeksi
Infeksi seperti osteomelitis dapat memperlambat proses penyembuhan.
3)    Keadaan pembuluh darah
Makin banyak pembuluh darah di daerah yang patah, makin cepat proses penyembuhannya.
4)    Faktor imobilisasi yang tidak cukup (Smeltzer dan Bare, 2001).



DAFTAR PUSTAKA
Betz C. L., Sowden L. A. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Corwin E. J. 2009. Buku Saku Patofisiologi, Edisi 3. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Doenges M. E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Pasien. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Mansjoer A., Suprohaita, Wahyu I. K., dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 2. Media Aesculapius, jakarta.

Potter P. A., Perry A. G. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, Praktik. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Price S. A., Wilson L. M. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Reksoprodjo S. 2000. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Binarupa Aksara, Jakarta.

Smeltzer S. C., Bare G. B. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8 Volume 1. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.